#Attribution1 { height:0px; visibility:hidden; display:none }

Wednesday, December 19, 2012

Pembelajaran Koperatif tipe NHT



Langkah-Langkah Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT
Pembelajaran kooperatif tipe NHT merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur-struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola-pola interaksi siswa dalam memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan isi akademik. Tipe ini dikembangkan oleh Kagen dalam Ibrahim (2000 : 28) dengan melibatkan para siswa dalam menelaah bahan yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut.
Penerapan pembelajaran kooperatif tipe NHT merujuk pada konsep Spencer Kagen dalam Ibrahim (2000 : 28) untuk melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dengan mengecek pemahaman mereka mengenai isi pelajaran tersebut. Sebagai pengganti pertanyaan lansung kepada seluruh kelas, guru menggunakan empat langkah sebagai berikut : (a) Penomoran, (b) Pengajuan pertanyaan, (c) Berpikir bersama, (d) Pemberian jawaban.
Langkah-langkah tersebut kemudian dikembangkan menjadi enam langkah sesuai dengan kebutuhan pelaksanaan penelitian ini. Keenam langkah tersebut adalah sebagai berikut :
Langkah 1. Persiapan
Dalam tahap ini guru mempersiapkan rancangan pelajaran dengan membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Siswa (LKS) yang sesuai dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT.
Langkah 2. Pembentukan kelompok
Dalam pembentukan kelompok disesuaikan dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 4 sampai 5 orang siswa. Guru memberi nomor kepada setiap siswa dalam kelompok dan nama kelompok yang berbeda. Kelompok yang dibentuk merupakan percampuran yang ditinjau dari latar belakang sosial, jenis kelamin dan kemampuan belajar. Selain itu, dalam pembentukan kelompok digunakan nilai tes (pre-test) sebagai dasar dalam menentukan masing-masing kelompok.
Sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai, guru memperkenalkan keterampilan kooperatif dan menjelaskan tiga aturan dasar dalam pembelajaran kooperatif yaitu :
1. Tetap berada dalam kelas
2. Mengajukan pertanyaan kepada kelompok sebelum mengajukan pertanyaan kepada guru
3. Memberikan umpan balik terhadap ide-ide serta menghindari saling mengkritik sesama siswa dalam kelompok
Langkah 3. Diskusi masalah
Dalam kerja kelompok, guru membagikan LKS kepada setiap siswa sebagai bahan yang akan dipelajari. Dalam kerja kelompok, setiap siswa berpikir bersama untuk menggambarkan dan meyakinkan bahwa setiap orang mengetahui jawaban dari pertanyaan yang telah ada dalam LKS atau pertanyaan yang telah diberikan oleh guru. Pertanyaan dapat bervariasi, dari spesifik sampai yang bersifat umum.
Langkah 4. Memanggil nomor anggota atau pemberian jawaban
Dalam tahap ini, guru menyebut satu nomor dan para siswa dari tiap kelompok dengan nomor yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban kepada siswa di kelas.
Langkah 5. Memberi kesimpulan
Guru memberikan kesimpulan atau jawaban akhir dari semua pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang disajikan.
Langkah 6. Memberikan penghargaan
Pada tahap ini, guru memberikan penghargaan berupa kata-kata pujian pada siswa dan memberi nilai yang lebih tinggi kepada kelompok yang hasil belajarnya lebih baik.

PEMBELAJARAN CARD SHORT



STRATEGI PEMBELAJARAN CARD SHORT
Pada postingan kali ini saya ingin sedikit berbagi dengan para pembaca salah satu dari sekian banyak strategi pembelajaran yaitu strategi pembelajaran CARD SHORT. Strategi pembelajaran ini sangat cocok untuk diterapkan di kelas karena insya allah akan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.
Secara umum langkah-langkah strategi pembelajaran Card Short adalah sebagai berikut :
  1. Menentukan topik
  2. Pengantar kegiatan
  3. Guru memberikan kartu secara acak dan pastikan masing-masing siswa mendapatkan kartu tersebut.
  4. Masing-masing siswa mencari kartu nama yang sama sekaligus mengklasifikasinnya.
  5. Kesimpulan.
Sintaks strategi pembelajaran Card Short dapat dilihat pada tabel berikut :
SINTAKS
KEGIATAN GURU
KEGIATAN SISWA
Fase 1 :
Penyampaian tujuan dan motivasi
Kegiatan awal :
-   Apersepsi :
-   Motivasi
-   Menyampaikan tujuan pembelajaran
Siswa dapat mendengarkan dan menjawab pertanyaan dari guru dengan seksama
Siswa dapat mendengar dan berniat mempelajari materi
Fase 2 :
Menyampaikan informasi
Kegiatan inti
-   Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan kajian pustaka.
-   Guru memberikan pertanyaan tentang materi yang telah dipelajari siswa pada kajian pustaka.
-   Guru merangkum sekaligus memberikan penegasan dan informasi tentang materi pelajaran
Siswa melakukan kajian pustaka
Siswa mendengarkan penjelasan guru (Eksplorasi)
Fase 3 :
Pembagian siswa dalam kelompok
Guru membagi siswa dalam kelompok belajar dan membagikan lembaran kartu secara acak kepada siswa dan memberikan penjelasan cara menyusun atau mengelompokkan kartu tersebut (Card Short)
Siswa membentuk kelompok sesuai dengan nama-nama yang ada dalam kartu yang telah dibagikan (Elaborasi)
Fase 4 :
Membimbing kelompok kerja dan belajar
-   Guru membimbing kelompok belajar pada saat berdiskusi, mengamati dan melakukan penilaian minat belajar.
-   Guru membimbing siswa untuk menyajikan hasil kerjanya didepan kelas, baik secara individu atau kelompok.
Siswa bertanya jawab dengan temannya, bagaimana cara mengurutkan kartu dengan benar (Elaborasi)
Fase 5 :
Evaluasi
-   Guru memfasilitasi persentasi hasil kerja kelompok.
-   Guru mengamati dan melakukan penilaian terhadap persentasi yang dilakukan oleh siswa.
-   Guru memberikan klarifikasi dan kesimpulan
Antara kelompok saling menanggapi dan memberi umpan balik serta mendapat penguatan dari guru (konfirmasi)
Fase 6 :
Memberi penghargaan
Kegiatan Penutup
-   Refleksi
Guru menanyakan tentang perasaan siswa terhadap pelajaran hari ini apakah menyenangkan dan bermanfaat ? apakah materi pelajaran ini bermanfaat bagi kehidupan selanjutnya.
-   Pengayaan (PR)
Siswa diberikan tugas untuk merangkum dirumah materi pembelajaran hari ini
-   Guru memberikan penghargaan terhadap siswa baik secara individu maupun secara kelompok atas prestasinya.
Siswa memberikan jawaban dari pertanyaan refleksi
Siswa mengerjakan PR
Siswa menerima penghargaan dengan senang hati dan bertepuk tangan

Tuesday, December 4, 2012

Buat & Unduh Jadwal Sholat Bulanan - Indonesia

Buat & Unduh Jadwal Sholat Bulanan - Indonesia

Sunday, November 25, 2012

Survei: Mayoritas Guru Menilai Media Elektronik Ganggu Siswa di Kelas

Survei: Mayoritas Guru Menilai Media Elektronik Ganggu Siswa di Kelas

Metrotvnews.com, Jakarta: Benarkah perangkat elektronik bisa berimbas pada perkembangan anak? Sebuah studi mengatakan, jumlah penggunaan dan jenis perangkat elektronik mempengaruhi performa anak di kelas.

Hasil sebuah survei menunjukkan, sebanyak 71 persen guru mengatakan media elektronik mengurangi perhatian siswa di kelas. Sementara 59 persen guru berpendapat, siswa yang mengakses media entertainmen mengalami gangguan dalam berkomunikasi langsung. Bahkan 58 persen yakin bahwa media elektronik berimbas buruk pada kemampuan menulis siswa.

Survei ini dilakukan Common Sense Media, sebuah kelompok yang fokus pada imbas penggunaan media elektronik pada anak-anak. Mereka melibatkan 685 guru dari Sekolah Dasar swasta dan negeri di Amerika. Kepada guru ditanyakan bagaimana kebiasaan mengakses teve, video games, telepon seluler, media sosial, musik, dan jenis media lain berpengaruh pada kemampuan siswa di kelas.

Foto Otak Einstein Buktikan Kejeniusannya

Foto Otak Einstein Buktikan Kejeniusannya



Foto Otak Einstein Buktikan Kejeniusannya

Techno = / Sabtu, 24 November 2012 18:13 WIB
Metrotvnews.com, Washington: Ketika Albert Einstein meninggal pada 1955, Thomas Harvey mengambil otak ilmuwan tersebut dan menyimpannya. Ahli patologi itu mengiris ratusan bagian tipis jaringan otak Einstein untuk diperiksa dengan mikroskop. Ia juga juga memotret 14 foto otak sang jenius tersebut dari beberapa sudut.

Harvey telah mempresentasikan sebagian penelitiannya, namun tetap merahasiakan foto yang telah diambilnya karena ingin menulis buku tentang otak fisikawan tersebut. Tetapi dia meninggal sebelum bukunya selesai.

Foto-foto tersebut tetap tersembunyi selama beberapa puluh tahun. Pada 2010, keluarga Harvey akhirnya menyumbangkan foto tersebut ke National Museum of Health and Medicine di Washington D.C. Kemudian tim Falk mulai menganalisis foto-foto otak Einstein itu pada 2011.

Tim Falk menemukan, bahwa secara keseluruhan otak Einstein memiliki lipatan yang jauh lebih rumit di bagian celebral cortex. Bagian tersebut merupakan materi berwarna abu-abu pada permukaan otak dan berperan untuk pikiran sadar. Secara umum, materi abu-abu yang lebih tebal berhubungan dengan IQ yang lebih tinggi.

Pola lipatan luar biasa itulah yang dapat membantu menjelaskan mengapa Eisntein begitu jenius. Hasil penelitian tim Falk itu telah diterbitkan dalam jurnal `Brain` yang terbit 16 November lalu.

Secara khusus, lobus frontalis, daerah yang berhubungan dengan pemikiran abstrak dan perencanaan, memiliki lipatan yang tidak biasa dan rumit, seperti yang dinyatakan dalam sebuah analisis.

"Bagian otak tersebut adalah bagian yang sangat canggih dari otak manusia. Dan otak Einstein sangat luar biasa," kata seorang antropolog di Florida State University, Dean Falk.

Prefrontal cortex, yang memainkan peranan  penting untuk pemikiran abstrak, membuat prediksi dan berencana, juga memiliki pola lipatan yang luar biasa rumit pada otak Einstein. Selain itu, lobus oksipitalis dari otak Einstein, yang melakukan proses visual, menunjukkan lipatan tambahan.

Lobus parietalis bagian kanan dan kiri pada otak Einstein juga tampak sangat asimetris, ungkap Falk. Tidak jelas hubungan antara bagian tersebut dan kejeniusan Einstein, tapi bagian otak tersebut adalah kunci untuk tugas-tugas spasial dan penalaran matematika, tambah Falk.

"Entah itu alami atau dipupuk. Ia lahir dengan otak yang sangat baik, dan dia memiliki berbagai pengalaman yang memungkinkan dia untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya," jelas Dean Falk.

Tapi sebagian besar kemampuan baku Einstein mungkin didapatnya secara alami bukan dari hasil kerja kerasnya seumur hidup, kata Sandra Witelson, dari Michael G. De Groot School of Medicine at McMasters University yang telah melakukan penelitian di masa lalu mengenai otak Einstein. Pada 1999, karyanya mengungkapkan bahwa lobus parietalis bagian kanan Einstein memiliki lipatan ekstra, yang didapatkan dari gen orangtuanya atau terjadi ketika Einstein masih dalam kandungan.

“Otak tersebut berbeda bukan sekadar dari ukuran yang lebih besar atau kecil, namun juga polanya. Anatomi otaknya sangat unik jika dibandingkan dengan setiap foto atau gambaran otak manusia yang pernah ada,” ungkap Witselon.

Albert Einstein merupakan fisikawan yang paling terkenal dari abad ke-20. Teori terobosannya mengenai relativitas umum menjelaskan bagaimana cahaya membelok karena lipatan ruang dan waktu. Einstein meninggal pada usia 76 tahun. (LiveScience/Wtr4)