MEMAHAMI PUISI
Oleh : Kartika Septiarini, S.Pd.*
Oleh : Kartika Septiarini, S.Pd.*
A. GAMBARAN PUISI INDONESIA
Bentuk karya sastra yang paling tua. Karya besar yang bersifat abadi
seperti : Mahabarata, Ramayana, wedatama,tripama, babad tanah jawi (sastra
jawa), Oedipus, antigone, hamlet, dan sebagainya (dari yunani dan inggeris)
dikarang dalam bentuk puisi. Bentuk puisi yang paling tua adalah mantra. Di
dalam mantra tercermin hakikat sesungguhnya dari puisi, yakni bahwa
pengkonsentrasian kekuatan bahasa itu dimaksudkan oleh penciptanya untuk
menimbulkan daya magis atau kekuatan ghaib. Dalam perkembangan di Indonesia,
kita kenal dengan jenis tipografi dan model puisi yang menunjukkan perkembangan
struktur puisi tersebut.
1.
Mantra
Mantra
terdapat di dalam kesusastraan daerah di seluruh Indonesia. Mantra berhubungan dengan
sikap religius manusia. Untuk memohon ssesuatu dari Tuhan diperlukan kata-kata
pilihan yang berkekuatan ghaib, yang oleh penciptanya dipandang mempermudah
kontak dengan tuhan. Karena sifat sakralnya, mantra sering kali tidak boleh
diucapkan oleh sembarang orang. Hanya pawing yang berhak dan dianggap pantas
mengucapkan mantra itu. Pengucapannya pun harus diikuti dengan upacara ritual,
misalnya asap dupa, duduk bersila, gerak tangan, ekspresi dan sebagainya.
Berikut ini
contoh mantra :
Mantra dari Jawa
Sang ireng
jeneng muksa pangreksane,
Sang ening mati jati rasane,
Lakune ora katon pangrasane manusa,
Bismillahirrahmanirahim,
Car mancur cahyaniing Allah,
Sungsum balung rasaning pangeran,
Getig daging rasaning pangeran,
Kulit wulu rasaning poangeran,
Iya ingsun mancuring Allah jatining manusa,
Nek putih rasaneng nyawa,
Badan Allah sak kalebut putih,
Iya ingsun nagara sampurna.
Dari contoh mantra tersebut, dapat diketahui beberapa cirri pokok mantra
yaitu : Pamilihan kata yang sangat seksama, bunyi-bunyi diusahakan
berulang-ulang dengan maksud memperkuat daya sugesti kata, banyak dipergunakan
kata-kata yang kurang umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari dengan maksud
memperkuat daya sugesti kata, dan jika dibaca secara keras mantra menimbulkan
efek bunyi yang bersifat magis.
2.
Pantun dan syair
Kedua jenis puisi ini adalah lama yang terkenal.
Jenis-jenis puisi lama lainnya adalah : Talibun, gurindam, tersina dan
sebagainya. Jenis puisi lain seperti pantun dan syair itu mempunyai struktur
yang prinsip-prinsipnya sama dengan struktur
pantun dan syair. Pantun dan syair menunjukkan ikatan yang kuat dalam
hal struktur kebahasaan atau tipografik atau struktur fisiknya. Ikatan yang
memberikan nilai keindahan dalam struktur kebahasaan itu, berupa : jumlah suku
kata setiap baris, jumlah baris setiap bait, jumlah bait setiap puisi dan
aturan dalam hal rima dan ritma. Struktur makna dalam pantun sdan syair
mempunyai perbedaan. Pantun terdiri atas dua bagian , yakni sampiran dan isi.
Sampiran merupakan dua baris pantun yang memliki saran bunyi yang menuju isi.
Hubungan antara sampiran dengan isi hanyalah hubungan dalam saran dan bunyi
itu. Dua baris pantun yang menjadi sampiran sangat berhubungan.
Aturan dalam struktur makna dalam hal sampiran, dapat
kita lihat juga dalam klasifikasi. Kita mengenal jenis pantun dan syair yang
menunjukkan aturan klasifikasi pantun dan syair itu. Pantun meliputi : Pantun
anak-anak, pantun muda, pantun tua, dab aontun jenaka. Sedangkan klasifikasi
syair meliputi : Syair cerita panji, syair cerita fantasi, syair alegoris,
syair sejarah, syair budi pekerti dan pendidikan dan syair saduran dari bahasa
asing (Liaw Yock Fang, 1982 : 285-316).
Pantun adalajh puisi Indonesia asli. Di Indonesia
terdapat tradisi berpantun. Pantun tepat untuk suasana tertentu seperti halnya
karya seni lainnya hanya tepat untuk suasaana tertentu pula. Dalam upacara
perkawinan banyak digunakan pantun untuk sambutan : Penggunaan pantun di sini
menimblkan suasana akrab. Gadis dan jejaka yang berkenalan, bercintaan, atau menyatakan
kasihnya juga dapat menggunkan pentun karena ungkapan secara langsung dipandang
kurang tepat. Ungkapan langsung dalam pantun diberi antara oleh sampiran
sehingga penerima ungkapan itu tidak merasa terkejut. Tanggapan orang yang
diajak bicara pun jika bersifat kasar tidak begitu menyakitkan hati karena
tanggapan itu diperantarai oleh sampiran.
Berikut
ini beberapa contoh poantun dari melayu :
a. Pantun Muda
Pecah
ombak di Tanjung Cina,
Menghempas pecah ditepian.
Biarlah makan dibagi dua,
asal jangan tinggalkan.
b. Pantun Tua
Bukit
putus jalan ke Padang,
Direndang jagung diangusi.
Kata putus badan terbuang,
Dipandang kampong ditangisi.
Berikut
ini beberapa contoh syair :
a)
Syair Ken Tambuhan (cerita
panji)
Lalulah
ken tambuhan berjalan
Diiringkan penglipur dengan tadahan
Lemah lembut berjalan perlahan-lahan
Lakunya laris memberi kasihan
Tunduk menangis segala puteri
Masing-masing berkata sama sendiri
Jahatnya perangai permaisuri
Lakunya seperti jin dan peri
b)
Syair si burung pungguk (alegori)
Pungguk bangsawan hendak menitir
Tidak diberi kakanda satir
Adinda jangan tuan bersyair
Jikalau tuan guruh dan petir.
Dari contoh di atas dapat dilihat perbedaan dari pantun dan syair,
perbedaan terletak pada rima ( persamaan
bunyi pada setiap akhir baris) akhir. Pada pantun pola rimanya adalah / abab/ atau rima silang. Sedangkan pada
syair pola rima adalah / aaaa / atau rima sama. Iram pada keduabentuk puisi
lama ini adalah sama, yakni berupa pemenggalan frasa pada setiap pertengahan
baris antara 4 hingga 6 suku kata.
3.
puisi jawa
Untuk memberikan gambaran yang lebih konkret tentang
hubungan natara struktur kebahasaan dengan struktur makna dalam puisi, penulis
memberikan ulasan tentang tembang jawa ( puisi Jawa). Di dalam tembang,
struktur fisik dan struktur batin berpadu dengan seksama. Dalam proses
penyusunan tembang jawa, aturan struktur fisik dan struktur batin harus padu
artinya aaturan struktur fisik saja belum cukup karena harus memenuhi aturan
batin yang ditentukan. Di sinilah letak keunikan yang memperkaya puisi Jawa dan
sekaligus menjadi contoh bahwa di dalam puisi, struktur fisik tidak dapat
dilepaskan dari struktur batin dan sebaliknya. Sebagai contoh tembang
Asmaradana, dipenuhi syarat-syarat
struktur fisik yang berupa aturan bunyi (guru lagu), aturan ait (guru gatra),
aturan baris dan suku kata (guru wilangan), juga harus dipenuhi watak
karakteristik Asmaradana yang berupa : perasaan dan nada trmbang Asmaradana
adalah perasaan sedih/duka dan kecewa karena kegagalan cinta. Kedukaan dalam puisi
ini adalah duka asmara.
Tema dan amanat yang disampaikan berupa nasihat yang berhubungan dengan duka asmara tersebut.
Contoh
:
Anjasmara ari mari (Anjasmara kekasihku
Masmirah kulako warto sebaiknya dinda mendengarkan berita ini
Dasihmu tan wurung layon suamimu ini akan menemui ajalnya, karena
Aneng kutha probalingga aku harus berangkat ke kota Probolinggo
Perang lan urubisma dan aku harus bertempur melawan Urubisma
Kariyo mukti wong ayu maka, tinggallah kau dalam kebahagiaan
Pun kakang pamit palastro kanda pergi menjemput maut).
4.
Puisi baru
Pada angkatan balai pustaka penulisan puisi masih banyak
dipengaruhi oleh puisi lama seperti pantun, syair, maka pada angkatan pujangga
baru diciptakan puisi baru. Para pencipta
puisi baru berusaha melepaskan ikatan-ikatan puisi lama, tetapi kenyataanya
ikatan itu dalam puisi baru masih nampak. Bentuk puisi yang disebut puisi baru
ini diambil dari sastra asing. Puisi yang diklasifikasikan puisi baru adalah :
Distichon (2 baris), tersina (3 baris),
quatrain (4 baris), quint (5 baris), sextet (6 baris), septima (7 baris), dan
oktaf (8 baris), ada juga bentuk sonata yang terkenal terdiri dari 14 baris.
Contoh
:
BUKAN
BETA BIJAK BERPERI
Bukan beta bijak berperi,
Pandai menggubah madahan syair.
Bukan beta budak negeri,
Mesti menurut undangan mair.
Syaraf-syaraf saya mungkiri,
Untaian rangakaian seloka lama,
Beta buang beta singkiri,
Sebab laguku menurrut sukma.
Susah sungguh saya samoaikan,
Degub-deguban di dalam kalbu,
Lemah laun lagu dengungan,
Matnya digamat rasain waktu.
Sering saya susah sesaat,
Sebab mudahan tidak nak datang.
Sering saya sulit menekat,
Sebab terkurung lukisan mamang.
Bukan beta bijak berperi,
Dapat melemah bingkaian pantun.
Bukan beta berbuat baru,
Hanya mendengar bisikan alun.
(Rustam
Efendi)
5.
Puisi nangkatan 45
Pada angkatan 45 benar-benar terjadi revolusi dalam
puisi. Ikatan puisi lama sudah ditinggalkan. Jika pada mantra bentuk fisik
dipentingkan dan makna tidak dipentingkan, pada puisi lama/puisi baru ada
keseimbangan antara bentuk fisik dan bentuk batin puisi, maka pada angkatan 45
yang dipentingkan adalah makna atau bentuk batin puisi. Ikatan bentuk fisik
puisi tidk dominant lagi. Unsur-unsur pengaturan bahsa masih ada dan digunakan
secara kreatif ( tidak statis).
6.
Puisi kontemporer
Sutardji Calzoum Bachri dipandang sebagai pembaharu
dunia puisi Indonesia.
Jika Chairil Anwar menempatkan makna dalam kedudukan yang paling penting, maka
Sutardji menempatkan bentuk fisik (bunyi) dalam kedudukan yang terpenting.
Tardji ingin mengembalikan puisi kepada mantra. Ulangan
kata, frase, dan bunyi adalah kekuatan puisinya. Di samping itu Tardji juga mengutamakan bnetuk fisik berupa
tulisan-tulisan yang mengandung makna tertentu.
B. PENGERTIAN PUISI
1.
Beberapa batasan puisi
Slametmuljana mengatakan bahwa puisi merupakan bentuk kesusastraan yang
menggunakn npengulangan suara sebagai cirri khasnya ( 1951 :58). Pengulanagn
kata itu menghasilkan rima, ritma dan musikalitas.
Jika pengertian itu ditinjau dari segi bentuk batin puisi maka Herbert
Spencer menyatakan bahwa puisi merupakan bentuk pengucapan gagasan yang
bersifat emosional dengan mempertimbangkan efek keindahan (Clive Sansom, 1960:
5).
2.
Unsur-unsur yang membangun puisi
Sebuah puisi adalah sebuah struktur yang terdiri dari unsure-unsur pembangun.
Unsur tadi dinyatakan bersifat padu
karena tidak dapat dipisahkan tanpa mmengaikan unsure yang lainnya. Unsur yang
bersifat fungsional dalam kesatuannya juga bersifat funfsional terhadap unsure
lainnya.
Gambaran tentang puisi sebagai suatu struktuir utuh dapat kita lihat dari
tembang jawa tadi. Sebuah tembang jawa tidak hnaya diatur oleh struktur bunyi,
suku kata, dan baris namun juga diatur oleh aturan makna tersendiri yang harus
memenuhi syarat. Meskipun aturan kebahasaan sudah mmenuhi syarat, jika aturan
makna tidak dipennuhi maka tembang jawa tersebut tidak bernilai.
*Guru MI Miftahul Ulum Waringinsari Pringsewu Lampung
*Guru MI Miftahul Ulum Waringinsari Pringsewu Lampung